UJIAN NASIONAL: DUA SISI BERBEDA

Menghitung hari, tinggal 10 hari tepatnya tanggal 17, 18 dan 19 April 2007 Ujian Nasional akan tiba. Apa yang menarik jika siswa SMA/SMK menghadapi UN, dan bagaimana reaksi sekolah dan orangtua ?

Menurut pengamatan orang awam, ada hal yang berbeda yang dihadapi oleh siswa SMA dan SMK. Bagi siswa SMK UN tidak "sedahsyat" siswa SMA. Jika siswa SMA berburu bimbingan belajar dengan membayar 1,5 - 3 juta rupiah untuk pendalaman dan pembahasan soal-soal ujian. Maka siswa SMK dengan tenang, duduk manis, dan tanpa reserve apa-apa dihadapi ujian tersebut dengan ‘pasrah’. Mereka siap secara mental menghadapi sitruasi jika mereka ternyata tidak lulus…ya, kalau orang islam menggolongkan mereka dengan sebutan kaum qadariyah. Terserah, yang terjadi…terjadilah.

Namun, bagi siswa SMA mereka benar-benar serius banget, Mereka berpikir realistis dan menyadari bahwa keberhasilan memang harus dikejar dan dikejar…..apapun dan bagaimana pun caranya. Mereka menurut ukuran religi dikelompokkan sebagai golongan aqliyah…..

Sisi lain yang bikin guru merinding, adalah mengapa keberadaan bimbel di tingkat SMA pada akhir sekolah menggantikan peran guru sesungguhnya ? mengapa ? mengapa guru sendiri takut menghadapi kegagalan-kegagalan ? Tak adil jika kegagalan sebuah sekolah hanya ditimpakan kepada guru 3 bidang studi saja…..mengapa guru yang bukan di UN kan merasa tak terlibat ? Wah, kalau begitu jadikan saja semua mapel di sekolah sebagai UN…… Mungkin cara seperti itu akan mendongkrak prestasi kualitatif sekolah. Sebab semuanya punya andil ; Keberhasilan dan kegagalan UN di sekolah. Tidak ada guru yang menjadi "pemenang" dan tidak ada pula guru yang berpikir sebagai "pecundang"…

Orangtua ? adalah kelompok masyarakat yang rentan terhadap kondisi pendidikan secara makro. Mau protes kemana ? jika anak mereka tidak lulus satu mata UN, lantas ketigabelas, atau keempatbelas mapel langsung berguguran… keadilan dimanakah engkau ?

Ada cara yang jitu untuk mengatasi keresahan siswa, sekolah, guru dan orangtua…..belum lagi pemerintah yang mengeluarkan biaya bermiliar-miliar rupiah. Caranya ? lalukan referendum nasional tentang UN, tanyakan kepada rakyat, masyarakat dan bangsa sebagai pemilik negara ini, perlukah UN diadakan ?

Cimahi, 7 April 2007

SERTIFIKASI GURU

Rekan-rekan profesi se-tanah air, walaupun di dada kita masih semangat untuk berjuang lewat pendidikan…walaupun dulu, kita bekerja tidak pernah menuntut apa-apa bukan berarti kita tidak tahu apa-apa

Euphoria reformasi 1998 rasanya belum hilang dari ingatan…perombakan sistem politik, sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan dan tentunya sistem pendidikan luar biasa maju.

Di bidang pendidikan mulai diperhatikan tatkala Gus dur menjadi presiden. Perubahan sistem penggajian melampaui banyak pemikiran. Gaji yang diterima oleh guru PNS jika dulu habis  untuk satu, atau dua hari. Kini bisa dinikmati untuk dua minggu. Tatkala guru PNS DKI Jakarta menikmati tunjangan 2-jutaan. Kini lebih dari sekedar cukup……

UU No, 14/ 2005 tentang guru dan dosen telah memberi ruang yang sangat luas untuk menikmati penghasilan yaitu satu bulan gaji bagi guru yang sudah lulus sertifikasi. Namun, kendala untuk memberi kepada 2,3 juta guru di tanah air ternyata masih menimbulkan polemik yang berkepanjangan….baik masalah internal guru itu sendiri atau pun lewat belitan birokrasi.

Ayo, pemerintah…jangan "menunggu godot" lewat untuk merealisasikan janji dan amanah konstitusi…lihatlah masih banyak guru maaf !!! yang menjelang pensiun ingin menikmati tunjangan sertifikasi guru sebelum memasuki masa purna bakti, kini hanya menunggu yang tidak pasti.

Ayo, pemerintah…berikan yang terbaik untuk pencipta tunas-tunas bangsa. Berikan hak nya, berikan setitik air asa, berikan apresiasi yang tinggi, berikan … berikan…. semuanya.

Semoga Allah SWT menjadikan para pemimpin yang di do’akan oleh jutaan guru terbuka dan memberikan yang terbaik jika mereka telah tuntaskan jabatannya baik sebagai menteri, Irjen, Dirjen dst….

Cimahi, 7 April 2007