UN HARI KE-3 DI SMK 3 JAKARTA

Alhamdulillah, semua lancar….pengawas senang, pemantau independen bahagia, panitia tepuk tangan,  dan siswa kita….SMK 3 Jakarta dan yang menumpang SMK Bunda Mulia I…masih menunggu sampai 16 Juni 2007.

Prediksi…..98% lulus deh !!!!

Sudiono, SMK Negeri 3 Jakarta Jalan Garuda No. 63 Kemayoran, Tel. 021-4209629 Jakarta Pusat 10610. Email : diono_3@yahoo.co.id HP 0811887262

UN HARI KE-2 DI SMK 3 JAKARTA

Hari kedua pelaksanaan Ujian Nasional di SMK Negeri 3 Jakarta, Rabu : 18 April 2007 diawali dengan Pengecekan oleh Kepala SMK 3 Jakarta, Bp. Dedi Dwitagama  pukul 06.40 WIB. LJK hari ini spesial sebab menggunakan LJK yang nomor urutannya melompat-lompat…Tidak 41,42,43 dst melainkan 41,45,42 dst. Arahan yang sedianya disampaikan oleh Kepala SMK 3 Jakarta, dialihkan kepada Ketua Panitia Bp. Sudiono.

Inti pengarahan hanya mengingatkan atas apa yang kemarin dilakukan. Antara lain : Paket A, Paket B yang kemarin siswa terima akan dijadikan patokan pada hari ini dan besok. Berhubung hari ini yang diujikan adalah Matematika maka disediakan pula kertas corat-coret/kertas buram. Waktu yang disediakan untuk 30 nomor soal adalah 120 menit.

Hal yang mengagetkan adalah pertanyaan dari Sdr. Wahyudi, seorang pengawas  dari SMK Kartini. Menanyakan mengapa Panitia kemarin bawa naskah soal paket B ? Wah,,,wah,,, jangan curiga dong ! Sebab di atas kita ada Tuhan… jujur itu kan mahal banget harganya. Yang jelas itu hanya untuk melihat kode paket yang harus di isi di Amplop Sekolah yakni Paket 11 dan 44. Padahal info sebelumnya kode mata uji Bahasa Indonesia sebelumnya adalah E.01, 02. Kan, habis dipinjam langsung dikembalikan ke ruangan….. dari SMK Kartini, Sdr. Slamet Raharjo, tidak hadir ngawas untuk yang kedua kalinya. Informasi meyatakan beliau sakit….

Oh, ya anak SMK 3 Jakarta juga ada yang sakit namanya Ratna dia kelas III PJ duduk diruangan IX terkena DBD dan harus di rawat di RS islam Cempaka Putih, Jakarta. (Semoga lekas sembuh,,,)

Hm, harapan kita adalah UN sukses !!!!!! 

Jakarta, 18 April 2007

 

(Sudiono, SMK 3 Jakarta Jalan Garuda 63 Kemayoran Jakarta Pusat Telp. 021-4209629. HP 0811887262 Email : diono_3@yahoo.co.id Website : http//sudiono65.blogsome.com

UJIAN NASIONAL HARI KE-1 Di SMK 3 JAKARTA

Pagi-pagi sekali tepatnya pukul 04.00 Waktu Bekasi Pak Bemen Situmorang petugas SMK 3 Jakarta pengambil naskah soal Ujian Nasional pada hari ini, Selasa : 17 April 2007 sudah meninggalkan rumahnya di Bekasi menuju Rayon Jakarta Pusat yang terletak di SMK Negeri 27 Jalan Sutomo, Jakarta Pusat. Tentu saja didampingi oleh Pak Amar… mereka tiba di sekolah pukul 06.30 wib.

Beberapa petugas lain, mempersiapkan hajatan pada hari ini. Pak Hindi bersih-bersih. Pak Sudiono, selaku Ketua panitia sudah ada sejak pukul 06.00 WIB. Semua sudah stand by, saat pengawas dari SMK Paramitha, SMK Kartini, dan SMK St. John satu  per satu memasuki ruangan pengawas… Pak Dedi Kepala SMK negeri 3 Jakarta, saat pukul 07.20 mulai presentasi untuk sekilas teknis UN..

Tepat pukul 08.00 bel masuk dan bel itu menamdakan para siswa mengerjakan soal adalah saat-saat perjuangan bagi siswa dan pengawas. Siswa grogi…apalagi pengawasnya !!!!! Kesalahan kecil seperti guru yang bingung menentukan mana siswa yang dapat naskah paket A atau B. Daftar Hadir Siswa dan Berita Acara yang ragu-ragu dimasukkan ke dalam SR (Sampul Ruang). Siswa yang tertinggal Kartu legitimasi dll, Ada siswa yang terkena DBD (Demam Berdarah Dengue), wah…..Heboh adalah  saat LJK untuk math justru terbagi untuk bahasa Indonesia. Jumlahnya : 62 lembar bo…!!!

Catatan menarik adalah pada saat akumulatif SR (Sampul Ruang), ke AS (Amplop Sampul) disaksikan oleh Pak dion, Pak Bahar, Bu Yanti, Bu Dwi, Bu Masnur, dan Bu dar…kita masukkan satu lembar kontrol…diluarnya disisipi : berita Acara, Daftar Hadir, Lembar Kontrol, LH, dan LS1. Namun, diluar dugaan menurut informasi petugas…lembar kontrol dalam AS tidak ada ! (kemana tuh????) petugas rayon ??? mengapa meragukan pekerjaan kolektif kami !!!! kami bekerja sesuai   prosedur dan juknis !!!!

Mudah-mudahan, hari kedua semuanya baik-baik saja !!! tidak ada siswa yang sakit, pengawas yang tidak hadir, kesalahan administratif dll.

Ya, Allah berikan kmudahan bagi kami yang bekerja mengemban tugas, dan anak-anakku baik SMK Negeri 3 Jakarta dan SMK Bunda Mulia I yang  berjuang lewat UN.

Teacher room, Jakarta : 17 April 2007.

Sudiono, Ketua Panitia UN SMK Negeri 3 Jakarta Jalan garuda No. 63 kemayoran jakarta pusat 10610. Telp, 021-4209629, HP 0811887262

SEKOLAH UNTUK SEMUA….

Tidak bisa dihindari bahwa jumlah rakyat miskin ditanah air terus membengkak ! Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 jumlah rakyat miskin sebanyak 39,4 juta orang. Kemiskinan dilihat dari beberapa faktor antara lain : berapa ukuran kalori dalam karbohidrat yang mereka makan dalam sehari ? Berapa pendapatan yang diperoleh dalam sebulan ? atau ukuran-ukuran lainnya. Misalkan tingkat pendidikan yang saat ini 70-80% rakyat kita adalah lulusan SD.

Kita perlu menitikberatkan bahwa banyak anak-anak usia sekolah yang membantu orangtuanya. Bekerja sebagai pemulung, mengamen, menjadi pengemis, adalah potret nyata kehidupan…Lantas di mana peran kita untuk membantu mereka ? Mereka tersebar seantero Jabotabek, dalam klan-klan atau tempat-tempat kumuh di pojok kota.

Andai ada kawan yang berniat, ayo kita dirikan yayasan….Kita perlu action ! Mari kita kumpul dan bicarakan nasib mereka… Sekolah untuk semua, tidak ada kelas di tempat manapun kita harus ajak mereka bersekolah.

Sudiono, SMK Negeri 3 Jakarta,  HP 0811887262

PROFESI GURU : ANTARA HARAPAN DAN REALITAS

Manusia modern dihadapkan pada pekerjaan yang dilatarbelakangi oleh pendidikan apa yang dia capai. Lulusan fakultas teknik akan menjalani profesi sebagai Insinyur, Lulusan fakultas Kedokteran akan menjalani profesi sebagai dokter, Fakultas Ekonomi akan menjalani profesi sebagai Akuntan, Ekonom, atau seorang Lulusan Pendidikan Keguruan, akhirnya menjadi seorang guru yang dalam undang-undang No. 14/2005 tentang guru dan dosen sebagai Profesi Guru.

Profesi memiliki konsekuensi, bukan saja kompetensi akademik, sosial, atau kompetensi - kompetensi lainnya. Melainkan juga melekat apa yang disebut sebagai kaum profesional. Guru adalah sebutan akhir yang kita kategorikan sebagai golongan kaum profesional. Nasib profesional guru tidaklah secepat cemerlang profesi yang telah ada dulu. Mengapa demikian ?

Secara historis, keberadaan kaum pendidik di Indonesia memang telah ada sejak zaman "baheula"  atawa zaman penjajahan Belanda. Belanda menyekolahkan kaum priyai, untuk menghindari penggunaan guru-guru asal Belanda dalam mendidik para siswa di tanah jajahannya. Bisa dibayangkan berapa besar dana yang dikeluarkan jika Kaum Londo harus "mengimpor" langsung dari Belanda. Anggaran untuk bayar gaji, penginapan, transportasi dll akan menguras kas Belanda. Kondisi demikian lantas "diakali" dengan memilih pribadi dan warga terbaik untuk menjadi guru….

Jika guru lokal (Pribumi), tidak perlu dana yang besar untuk mengalokasikan untuk mencetak SDM yang akan bekerja untuk kaum kolonialis….tak terkecuali mereka dibayar "murah" sebagai kompensasi gaji yang diterimanya. Kondisi seperti itu ternyata di adopsi saat Indonesia merdeka (1945) hingga pra Reformasi (1998). Guru dimarginalkan, dilecehkan, dianaktirikan, dieksploitasi tatkala Pemilihan Umum dan dininabobokan dengan sebutan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa"

Jika sekarang, guru mulai diperhatikan…bukan berarti masalahnya berhenti. Justru akan menimbulkan efek yang luarbiasa. Misalkan : Tidak tuntasnya tunjangan guru, tunjangan profesional, dll yang memang diakomodir oleh UU No. 14/2005.

Jika pada kesempatan lain, Fasli Jalal Direktur Pendidikan Peningkatan Mutu Depdiknas mengatakan Guru akan mendapat tunjangan profesional yang lulus kompetensi sebesar 1 bulan gaji. Lantas bagaimana proses pencapaian ketuntasan pemberian tunjangan jika jumlah guru se-Indonesia 2,4 juta ? Sampai tahun berapa ? Jangan-jangan sebutan profesi guru sebagai jabatan profesional diemban, eh,,,pensiun belum menikmati tunjangan profesionalnya. Atau guru yang belum lama menjadi PNS tiba-tiba mendapat tunjangan…

Profesi guru yang kini mulai diperhatikan oleh pemerintah mengalami ujian…mampukah sekolah, pemerintah, dan instansi terkait meghilangkan misinterpretasi ? Atau kalau mau gampang naikkan anggaran pendidikan 20% berikan semua guru selama beberapa waktu, dgn konsekuensi-konsekuensinya. Jika gagal, ya…ditarik lagi tuh tunjangannya….

Bravo Pendidikan nasional

 

Jakarta, 10 April 2006

Jakarta,  

UJIAN NASIONAL: DUA SISI BERBEDA

Menghitung hari, tinggal 10 hari tepatnya tanggal 17, 18 dan 19 April 2007 Ujian Nasional akan tiba. Apa yang menarik jika siswa SMA/SMK menghadapi UN, dan bagaimana reaksi sekolah dan orangtua ?

Menurut pengamatan orang awam, ada hal yang berbeda yang dihadapi oleh siswa SMA dan SMK. Bagi siswa SMK UN tidak "sedahsyat" siswa SMA. Jika siswa SMA berburu bimbingan belajar dengan membayar 1,5 - 3 juta rupiah untuk pendalaman dan pembahasan soal-soal ujian. Maka siswa SMK dengan tenang, duduk manis, dan tanpa reserve apa-apa dihadapi ujian tersebut dengan ‘pasrah’. Mereka siap secara mental menghadapi sitruasi jika mereka ternyata tidak lulus…ya, kalau orang islam menggolongkan mereka dengan sebutan kaum qadariyah. Terserah, yang terjadi…terjadilah.

Namun, bagi siswa SMA mereka benar-benar serius banget, Mereka berpikir realistis dan menyadari bahwa keberhasilan memang harus dikejar dan dikejar…..apapun dan bagaimana pun caranya. Mereka menurut ukuran religi dikelompokkan sebagai golongan aqliyah…..

Sisi lain yang bikin guru merinding, adalah mengapa keberadaan bimbel di tingkat SMA pada akhir sekolah menggantikan peran guru sesungguhnya ? mengapa ? mengapa guru sendiri takut menghadapi kegagalan-kegagalan ? Tak adil jika kegagalan sebuah sekolah hanya ditimpakan kepada guru 3 bidang studi saja…..mengapa guru yang bukan di UN kan merasa tak terlibat ? Wah, kalau begitu jadikan saja semua mapel di sekolah sebagai UN…… Mungkin cara seperti itu akan mendongkrak prestasi kualitatif sekolah. Sebab semuanya punya andil ; Keberhasilan dan kegagalan UN di sekolah. Tidak ada guru yang menjadi "pemenang" dan tidak ada pula guru yang berpikir sebagai "pecundang"…

Orangtua ? adalah kelompok masyarakat yang rentan terhadap kondisi pendidikan secara makro. Mau protes kemana ? jika anak mereka tidak lulus satu mata UN, lantas ketigabelas, atau keempatbelas mapel langsung berguguran… keadilan dimanakah engkau ?

Ada cara yang jitu untuk mengatasi keresahan siswa, sekolah, guru dan orangtua…..belum lagi pemerintah yang mengeluarkan biaya bermiliar-miliar rupiah. Caranya ? lalukan referendum nasional tentang UN, tanyakan kepada rakyat, masyarakat dan bangsa sebagai pemilik negara ini, perlukah UN diadakan ?

Cimahi, 7 April 2007

SERTIFIKASI GURU

Rekan-rekan profesi se-tanah air, walaupun di dada kita masih semangat untuk berjuang lewat pendidikan…walaupun dulu, kita bekerja tidak pernah menuntut apa-apa bukan berarti kita tidak tahu apa-apa

Euphoria reformasi 1998 rasanya belum hilang dari ingatan…perombakan sistem politik, sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan dan tentunya sistem pendidikan luar biasa maju.

Di bidang pendidikan mulai diperhatikan tatkala Gus dur menjadi presiden. Perubahan sistem penggajian melampaui banyak pemikiran. Gaji yang diterima oleh guru PNS jika dulu habis  untuk satu, atau dua hari. Kini bisa dinikmati untuk dua minggu. Tatkala guru PNS DKI Jakarta menikmati tunjangan 2-jutaan. Kini lebih dari sekedar cukup……

UU No, 14/ 2005 tentang guru dan dosen telah memberi ruang yang sangat luas untuk menikmati penghasilan yaitu satu bulan gaji bagi guru yang sudah lulus sertifikasi. Namun, kendala untuk memberi kepada 2,3 juta guru di tanah air ternyata masih menimbulkan polemik yang berkepanjangan….baik masalah internal guru itu sendiri atau pun lewat belitan birokrasi.

Ayo, pemerintah…jangan "menunggu godot" lewat untuk merealisasikan janji dan amanah konstitusi…lihatlah masih banyak guru maaf !!! yang menjelang pensiun ingin menikmati tunjangan sertifikasi guru sebelum memasuki masa purna bakti, kini hanya menunggu yang tidak pasti.

Ayo, pemerintah…berikan yang terbaik untuk pencipta tunas-tunas bangsa. Berikan hak nya, berikan setitik air asa, berikan apresiasi yang tinggi, berikan … berikan…. semuanya.

Semoga Allah SWT menjadikan para pemimpin yang di do’akan oleh jutaan guru terbuka dan memberikan yang terbaik jika mereka telah tuntaskan jabatannya baik sebagai menteri, Irjen, Dirjen dst….

Cimahi, 7 April 2007

lentera pendidikan › Create New Post — Wordpress Cognotent

Pelatihan Penyusunan Proposal di SMK 3 Jakarta

      

 Jakarta : 10 Februari 2007

Suasana Kota Jakarta yang habis terendam banjir minggu lalu.

Tidak tampak pada aktivitas yang dilakukan oleh bapak/ibu guru SMK 3 Jakarta.

Sejak pukul 07.00 pagi mereka sudah datang untuk mengikuti Pelatihan Penyusunan Proposal.

Ada Pak Dedi Kepala SMK yang hadir, Pak Deni pakar IT, Pak Hary,

Pak Bahar, Pak Kalis, Bu Paryaningsih, Bu Jumini, Bu Susi, Bu Elvy, Bu Lilik…

semuanya ingin mengikuti pelatihan.

Tepat pukul 09.00 Pak dion mulai membuka laptop dan

memberi sharing tentang tata cara penyusunan proposal.

Semua senang….

guru-guru dapat llmu baru tentang bagaimana membuat

proposal dinas,

proposal uji kompetensi

proposal osis

proposal kewirausahaan dsb

Acara  ditutup pukul 13.00 siang.

adakah sekolah anda berminat  ????

untuk diadakan peltihan semacam itu silahkan saja hubungi blog ini.

Sampai jumpa.!!! 

 

 

 

Hello world!

Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the forums — we are only too willing to help.